Kamis, 14 Januari 2010

OUTDOOR MANASIK HAJI KELAS 6

SutorejoProgram Manasik Haji oleh siswa-siswi kelas 6 Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20 di Gedung Dakwah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jl. Sutorejo Surabaya, berjalan khidmat. Kegiatan Outdoor kali ini diikuti oleh sekitar 42 siswa dan didampingi oleh 4 orang guru, bekerjasama dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) PDM Surabaya pimpinan Ust. H. Muhammad Syafii.

Saat itu, siswa kelas 6 Amin Rais dan Juanda meluncur mengendarai 2 angkot carteran menuju ke Gedung Dakwah Pimpinan Daerah Muhammadiyah, rombongan yang dipimpin langsung oleh Ust. Ain selaku Guru Bidang Al Islam dan didampingi oleh 3 guru lainnya, yaitu Ust. Rudi, Ustadah Elok dan Ustadzah Shovi hendak melakukan simulasi Kaifiyah Manasik Haji Tamattu’.

Setiba di kantor PDM Surabaya, para peserta manasik berkumpul untuk diberi pengarahan tentang berbagai hal, mulai dari sistem pendaftaran haji, persiapan yang akan dihadapi sebelum melakukan ibadah haji, hingga teknis pelaksanaan dan kondisi di lapangan (Mekkah). Selanjutnya Ust. Ain mengarahkan mereka dalam suatu ruang dan kemudian Pembimbing Haji, Ust. Syafi’i menjelaskan tentang Miqot, yaitu saat mulainya mengenakan baju Ikhrom yang bisa dilakukan di Pesawat atau Bandara. Biasanya dilakukan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah/Dzul Hulaifah/Bir Ali. Hal ini pun tergantung dari gelombang pemberangkatan. Biasanya gelombang kedua langsung masuk kota mekkah dan harus pakai baju Ihram.

Setelah mendapat pengarahan seluruh siswa kelas enam asuhan ustadah Elok dan Shovi diminta berganti baju, seloroh dan komentarpun berkumandang, ya, risihlah, malu dan sumuk. Malah ada yang gak bisa mengenakan, baju ihromnya melorot terus, hal ini dialami oleh Dadang. Kemudian anak-anak duduk sebentar diberi pengarahan bahwa sebelum memakai baju Ihrom di sunnahkan untuk mandi seperti mandi junub, memakai minyak wangi-wangian, dan bersisir biar rapi ketika menghadap Allah.

Setelah siap melakukan pembelajaran haji, peserta diingatkan kembali bahwa memakai baju ihram yang pertama ini adalah untuk umroh terlebih dahulu sebelum berhaji, para peserta pun serempak mengucapkan niat ihram untuk umrah ”labbaika umratan”.

Sambil terus membaca Talbiyah para peserta berjalan menuju asrama, guna menaruh perbekalan dan berjalan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf, sholat dua rakaat di Maqam Ibrahim, minum air zam-zam, Sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwah dan diakhiri dengan tahalul. Dengan demikian maka rangkaian umrah telah selesai dan para peserta pun bebas untuk melakukan aktifitas lain sambil menunggu pelaksanaan Haji yaitu tanggal 08 Dzulhijjah.

Tibalah saatnya memulai ibadah haji...

Para peserta diminta memakai kembali baju ihramnya seraya mengucap ”Labbaika Hajjan” setelah itu semua menuju ke Mina untuk bermalam.

Esok harinya (tgl 09 Dzulhijjah) peserta menuju Namirah dan siangnya menuju Arafah untuk melaksanakan Wuquf. Di sini ustadz Syafii menjelaskan bahwa para jamaah haji harus benar-benar waspada dan hati-hati, sebab transportasi yg disiapkan sangat minim dan jedah tunggunya hanya beberapa menit. Di sini sering ada jamaah haji yg hilang/pisah dari rombongan karena telat masuk bis.

Setelah matahari hampir tenggelam para jamaah bergegas menuju Muzdalifah untuk bermalam. Anak-anakpun kaget ketika ustadz syafii menjelaskan bahwa di Muzdalifah seluruh jamah haji bermalam di tempat terbuka tanpa tap pelindung. ”yang perempuan mendingan ustadz bajunya lengkap, lha yang laki-laki ini kasihan Cuma pakai kain thok”. Celetuk Dimas. Dengan senyum ustadz Syafii menjelaskan ”begitulah pelajaran dari ibadah haji, kita diingatkan bahwa kita itu tidak ada apa-apanya dihadapan Allah.”  ”kaya ataupun miskin di hadapan Allah semua sama, hanya kain putih inilah yang nanti kita bawa untuk menghadap Allah” tambah ustad Syafii.

melas ya haji itu, capek lagi” celetuk anak yang lain. ”ya sudah, kalau begitu saya doakan kamu tidak bisa haji” jawab ustadz syafii agak bergurau.”ya... jangan ustadz, kami pingin haji nanti, biar capek tapi kan asyik ustadz” jawab anak-anak kompak.


Setelah bermalam esok harinya peserta haji melaksanakan Jumrah Aqabah. Di sini pihak KBIH telah menyiapkan banyak potongan selang kecil untuk melempar agar lebih aman. Mengingat peristiwa nabi Ismail melempar syetan sebanyak tujuh kali, anak-anak pun sangat bersemangat melempar jumrah hingga sasarannya bukan hanya tiang jumrah tapi juga teman-temanya sendiri. Setelah jumrah kemudian dilanjutkan dengan menyembelih kambing sebagai dam (denda) haji tamatu’  dan diakhiri dengan tahalul awal.

Setelah tahalul para peserta bebas memilih untuk thawaf ifadhah dulu atau lempar jumrah. Anak-anak memilih untuk thawaf dulu dan dilanjutkan dengan sa’i dan tahalul. Kemudian menuju Mina lagi untuk bermalam, esoknya melaksanakan jumrah Ula, Jumrah Wustha dan jumrah Aqabah. 

Rangkaian ibadah haji telah selesai dan sebelum pulang para peserta diajak untuk melaksanakan thawaf Wada’ sebagai tanda perpisahan dengan Ka’bah, pada thawaf kali ini, peserta tidak memakai baju ihram lagi. (M.Ain)

Sabtu, 02 Januari 2010

PAWAI TA'ARUF KKG-PAI

Koblen Kidul - Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20 Surabaya, turut serta dalam acara Pawai Ta’aruf memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 Hijriyah, yang diselenggarakan oleh KKG-PAI (Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam) dibawah naungan Unit Pelayanan Teknis Dinas Pendidikan Nasional daerah Surabaya, yang diadakan pada hari Sabtu, 2 Januari 2010  di halaman Kantor UPTD-BPS. 

Pawai Ta’aruf yang dilombakan ini diikuti oleh perwakilan dari seluruh sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-kecamatan Bubutan, termasuk Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Sekolah Dasar Swasta (SDS). Tercatat sejumlah 35 perwakilan sekolah yang hari ini mengikuti acara pawai ta’aruf, diantaranya 13 kelompok peserta dari SDN dan 22 kelompok peserta dari SDS. Jumlah peserta dalam tiap kelompok terdiri dari 20 anak, menggunakan kostum yang seragam dan unik di tiap kelompoknya, seperti tampilan oleh kelompok dengan nomer urut 014, siswa-siswi kelas 5 Alfa Edison dan Carolous Linneaus, perwakilan dari Sekolah Kreatif SDS. Muhammadiyah 20 yang berkostum ala rombongan kloter jamaah Haji dengan setelan putih putih dimaknai sebagai simbol Kesucian dan Kebersihan  diilustrasikan pula dalam demonstrasi tulisan  serta gambar Satukan Hati Bersihkan Negeri dari Syetan2 Berdasi dan Di Tahun Baru ini Basmi Korupsi dari Bumi Pertiwi, di barisan depan ada Warok Singomenggolo yang memimpin rombongan. Dari kelompok lain ada yang memakai kostum seperti Wali Songo dan pengikutnya, ada yang tampil bagai pasukan kerajaan, ada lagi yang tampil seperti rombongan penari memakai baju adat, dan masih banyak lagi.

Dalam susunan acara yang dibacakan oleh MC Bapak Drs. Artantib, menyebutkan tidak hanya ada Pawai Ta’aruf saja, melainkan akan ada acara pentas puisi, hadrah, samroh, pidato 3 bahasa dan pencak silat Saolin, yang akan dibawakan oleh siswa-siswi perwakilan diantaranya dari SDS. Uswatun Hasanah, SDS. Dupak Masigit (DUMAS), SDS. Halimah dan SDS Thohir Bahri, serta SDN Jepara I dan SDN. Alun-Alun Contong. Menurut keterangan Drs. Sapudji, selaku Ketua Panitia Acara Pawai Ta’aruf II pada tahun ini, dalam sambutannya yang pertama menyampaikan harapan dan tujuan dari acara ini agar anak-anak sejak dini harus tahu tentang Tahun baru Hijriyah dan mengenal bulan-bulan dalam kalender tahun hijriyah. Sedangkan sambutan yang kedua oleh Bapak Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah – Badan Pengelola Sekolah (UPTD-BPS), Drs. Hafidz Muhtar, M.Si. mengatakan agar kebersamaan antar sekolah tetap terjalin erat dan rukun dengan bersama-sama bersaing sehat untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan dan sekolah serta sumber daya manusia yang sudah ada. Dalam kesempatan sambutan ini pula, Pak Hafidz, panggilan akrabnya, membuka dan melepas 35 kontingen peserta pawai ta’aruf yang sudah diatur susunan barisannya sesuai nomor urut. Turut pula menyaksikan tamu undangan dari jajaran pengurus kantor Kecamatan dan Koramil Surabaya.

Pada kesempatan lain, Bapak Supriyanto, S.Th.I, selaku Ketua II Panitia Pawai Ta’aruf, menjelaskan bahwa yang terpenting dari lomba pawai hari ini adalah, seluruh peserta akan dinilai berdasarkan penampilannya yang unik, kreatif dan kompak sesuai tema, yaitu Dengan Peringatan Tahun Baru Hijriyah, Kita Tingkatkan Iman dan Taqwa dan Ukhuwah Islamiyah Keluarga Besar Dinas Pendidikan dan Lembaga SD/MI Dilingkungan UPTD-BPS Kecamatan Bubutan. Ditambahkan Supri; Dalam penjurian dilapangan akan dinilai langsung oleh Bapak Ketua UPTD-BPS, Drs. Hafidz Muhtar, M.Si. dan Bapak Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kecamatan Bubutan, Bp. Agus Supriyadi, M.Ag.
Selanjutnya, Supri panggilan akrabnya, yang sekaligus seorang Guru (ustad) Al Islam di Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20, menerangkan rute yang akan ditempuh oleh seluruh peserta dimulai (Start) dari : Halaman Kantor UPTD Dinas Pendidikan Nasional kota Surabaya di Jl. Koblen Kidul No.6 melewati Jalan Bubutan – Pringadi - Semarang – Kranggan – Bubutan – dan (Finish) Kantor UPTD.

Tampak disini guru Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20 mendampingi rombongan murid-muridnya dengan sabar dan telaten menyusuri Jalan Semarang dan Jalan Bubutan, didepan barisan tampak Ustadah Linda, Ustadah Arum, Ustadah Nita dan Ustadah Laili, sedangkan Ustad Iir dan Falih dengan mengendarai sepeda motor membawa air mineral untuk antisipasi apabila ada siswa yang haus atau tidak kuat lagi berjalan kaki. Ustad Huda turut mengabadikan anak-anak yang bersemangat, berjoget ala warok oleh Nasrul, menyanggah gambar-gambar dan pesan-pesan anti korupsi, yang dibawa oleh Haqqi, Aryo, Zia, Sabai, Mimi dan Vena, letih menahan kayu panji-panji Sekolah Kreatif oleh Affa, Hisyam dan Filki, serta Assa dan Fia yang sesekali menari sambil membaca puisi.
Kurang lebih satu jam perjalanan, acara yang tadinya dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembukaan oleh panitia acara, serta sambutan-sambutan. Sekitar 07.15 WIB diberangkatkan dan para peserta mulai tiba kembali (FINISH) sekitar pukul 08.15 WIB, rombongan kreatif 20 tiba langsung dikoordinasi ustad dan ustadahnya dan mencari tempat teduh untuk minum dan makan nasi kotak yang telah siap untuk dimakan. Tiba-tiba hadir Ustad Hanif ditengah anak-anak saat makan bersama, menyapa dan langsung berkoordinasi dengan semua guru pendamping. Tampak pula Ustad Achung di kantor UPTD Diknas yang sekitar satu jam ngobrol dan mewawancari Ketua Panita Acara Bapak Sapudji dan Ustad Supriyanto, untuk menggali informasi berita sebagai warta di dunia maya dengan situs blog : www.sekolahkreatifmuh20sby.blogspot.com  (Achung)

Kamis, 31 Desember 2009

PENGAJIAN OLEH UST. FADIL TASLIM

Tembok Dukuh – Pembinaan untuk meningkatkan mutu guru melalui pengajian berupa pembinaan Aqidah dan Akhlaq serta pemantapan mentalitas sebagai tentara ALLAH yang ikhlas dan Sabar dalam mencerdaskan anak didik dengan berorientasi hanya mencari ridho-Nya, yang digelar sekali dalam sebulan oleh Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20 menoreh catatan emas dalam mewujudkan komitmen sekolah, agar selalu peduli terhadap kualitas seorang guru.

Menjadi catatan akhir tahun 2009 dari perjuangan tim kesebelasan Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20 yang gawangi oleh
keeper komisi mutu guru dan siswa, telah berhasil mengundang para Da’i dan narasumber ternama, seperti Ust. N. Faqih Syarif H. (sept) memberikan kontribusi pemahaman tentang Ikhlas, bekerja keras menghasilkan balasan yang langsung atau ditahan oleh Allah dalam Tabung Energi. Ust. Nadjib Hamid (Okt) memberikan kontribusi pemahaman tentang pribadi muslim pengikut Muhammad sejati, yang siap disoroti, dan berani tampil beda dalam memerangi TBC, Takhayul, Bid’ah, dan (C)khurofat. Ust. Muffid (Nov) memberikan kontribusi pemahaman tentang kesungguhan dan keikhlasan dalam bekerja dan beribadah seperti kalimat mutiara : bekerjalah kamu seolah kamu hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu seolah kamu mati besok. Dan yang terakhir di penghujung tahun 2009, Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20, menghadirkan Ustad Fadil Taslim, seorang pakar Kristologi, yang ditugaskan untuk memantapkan keislaman para ustad dan ustadah agar selalu siap dan berani berdialog dengan penganut agama apapun, berkenaan tentang kebenaran Agama Islam.

Kajian yang diselenggarakan sore itu (Kamis, 31 Desember 2009), di moderatori oleh Ust. Ain, bertempat di musholla baru diatas gedung TK dan dihadiri oleh seluruh guru. Dengan sajian snack Roti Bicara (BT) dan Teh botol. Para audiens dengan khidmat mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Ustad Fadil Taslim, yang intinya menekankan bahwa sebagai muslim harus mampu bersiasat dalam dialog dengan non muslim, dalam hal pembuktian kebenaran ayat-ayat kitab Al Qur’an. Ditambah lagi harus mampu memahamkan Islam terhadap teman-teman muallaf yang dulunya memang pintar pada agama asalnya. Dalam ceramahnya ustad yang tinggal di Jl. Karamenjangan mengatakan, Jika dialog soal agama kita harus berpikir dobel, seperti main catur. Jika dia melangkah maju, kitapun melangkah dan berpikir apakah langkah selanjutnya, dan intinya jika masing-masing mau sekak mat harus punya jalan keluar. ujar Fadil.

Beberapa hal lain yang disampaikan oleh ustad Fadil adalah; para misionaris nasrani selalu akan berusaha melunturkan akidah umat Islam dengan berbagai cara, maka diingatkan bagi orang tua yang memiliki anak perempuan yang hendak dipinang oleh kaum nasrani harus hati-hati, karena mereka punya misi 3 D pada gadis-gadis muslim, yaitu Dihamili, Dinikahi dan Dimurtadkan. Hal ini dalam Alkitab di halalkan. Memang ayat-ayat dalam Al Kitab perjanjian lama dan baru memang kadang tidak sinkrun. Dalam menentukan natalpun, menyebutkan 4 versi mengenai tanggal kelahiran Yesus, yaitu tanggal 25 Desember, 7 Januari, 6 April dan 15 September. tambah Fadil. Belum lagi dalam dialog beliau dengan seorang pendeta mengenai siapa yang disembelih dari putra nabi Ibrahim, Di Al Qur’an, memang tidak menyebutkan nama, melainkan anak tunggal dari Ibrahim. Sedangkan Disebagian Al Kitab menyebutkan nama Ishaq, tapi di perjanjian baru ayat lain mengatakan bahwa Abraham memang punya anak dua dan yang terakhir disebutkan bernama Ishaq.

Setelah panjang lebar ustad Fadil menjelaskan tentang pengalaman beliau yang lihai berdialog dengan seorang pendeta yang lihai pula. Maka audien dipersilakan untuk berdialog, maka, Ustadah Elok mengawali dengan usulan agar ada kaderisasi bagi anak-anak dalam kelompok yang dibina, agar mampu membendung serangan kristenisasi sejak dini. Disusul ustad supri yang menanyakan bagaimana mengetahui tanda orang itu sungguh-sungguh masuk Islam, dan Apakah Judas Iskariot itu seorang pahlawan atau penghianat, karena Al Qur’an dan Al Kitab menyebutkan beda. Ustad Fadil menjawab; sulit mengetahui tanda kesungguhan orang berIslam. yang penting kita membina mereka dengan sungguh-sungguh diibaratkan seperti membuang teh dalam botol dan botolnya dituang air putih akan masih terasa tehnya, tapi jika botol dicuci berulang-ulang maka tidak terasa lagi tehnya. Lebih lanjut dijawab tentang siapa itu Judas Iskariot berdasar Injil perjanjian baru dan lamapun bertentangan bahwa disebutkan pertama Judas mengakui sebagai Yesus dan mati disalib, Di Injil Perjanjian baru disebutkan Judas menunjukkan siapa Yesus dan saat itu Yesus pun mengakui dirinya dan langsung ditangkap untuk disalib. Ini yang diyakini oleh kaum nashrani sekarang.

Selanjutnya bergantian ustadah Endang, Yuli dan Ustadah Alfiah menanyakan bagaimana mendo’akan keluarga yang bukan Islam, bagaimana mengingatkan keluarga agar mereka paham bahwa yang mereka lakukan itu salah, dan bagaimana menjelaskan jika ada mualaf yang dulu saat dia susah, jamaah gereja gencar membantunya tapi saat menjadi muslim dia tidak ada yang membantu.

Dijawab langsung oleh ustad Fadil dengan membuka Al Qur’an Surat 40 ayat 50 yang menjelaskan doa yang sia-sia bagi seseorang yang tidak seaqidah, dan dilanjutkan menjawab pertanyaan-pertanyaan lain. Sekitar pukul 17.00 WIB acara pengajian diakhiri doa dan dilanjutkan dengan foto bersama. Mengingat masih ada acara lain yaitu pengambilan gaji bulan Desember 2009.  (Achung)

Senin, 28 Desember 2009

KAMPUNG WISATA SAMPAH MANDIRI

Genteng – Untuk kedua kalinya siswa Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20 mengunjungi Kampung Wisata Sampah Mandiri Genteng Candi Rejo RT3 RW8 setelah kelas 2, kini kelas 3 Bumi dan Saturnus belajar mengenal bagaimana cara mengolah dan memilah sampah di kampung percontohan yang menjadi pusat belajar strategis di tengah kota, telah banyak dikunjungi siswa  dari sekolah lain dilingkungan Surabaya.

Siswa-Siswi binaan ustad Hadi-Ustadah Dina serta Ustadah Erlin-Ika, berangkat dari sekolah pukul 08.30 WIB mengendarai angkot menuju lokasi pembelajaran. Tidak lama perjalanan anak-anak sudah tiba, karena memang jarak sekolah dan kampung wisata sampah mandiri tidak begitu jauh. Rombongan siswa kelas 3 Bumi dan Saturnus disambut oleh Ibu-Ibu PKK kelompok tani Candirejo.
Kemudian anak-anak diajak berkumpul di Aula Kampung yang bernuansa biru ada gambar Nyai Roro Kidul di tembok dan beragam piagam penghargaan dari berbagai instansi dan media cetak ataupun dari pemerintah kota Surabaya, dan selanjutnya, salah seorang pengurus PKK RT membuka pertemuan dengan sambutan dan mempersilakan perwakilan sekolah, yakni Ustad Hadi memberikan salam perkenalan serta menjelaskan tujuan program outdoor siswa hari ini. Diteruskan oleh sambutan dan perkenalan Pak Sahri sebagai Ketua RT setempat sekaligus penggagas program pengolahan sampah serta memberikan pengantar dan penjelasan tentang program sampah di kampung ini dengan interaktif, diawali dengan meminta anak-anak maju untuk memberikan pendapatnya tentang sampah, setelah itu beliau menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana memujudkan program pengolahan sampah ini secara bersama-sama maka dibentuk kelompok-kelompok tani perkotaan yang diketuai oleh bu Wiwik dan bertugas membuat; Pupuk Kompos, Pupuk Cair, Pengembangan Tanaman, Pengolahan Produksi dan Pemasaran (Dibentuk Koperasi). Program tersebut mulai dicanangkan di kampung mereka sejak 31 Desember 2007 dan sudah dapat mengolah sampah hingga 75%. Dan target yang diinginkan adalah sampah yang terbuang hanya 10%.
Selain daripada itu, ternyata di kampung wisata sampah mandiri ini juga mencanangkan pelestarian air sebagai usaha untuk mengatasi global warming. Maka dibuatlah resapan air berupa sumur biopori dan pendayagunaan air bekas bilasan akhir yang digunakan untuk menyiram tanaman dan mencuci sepeda motor. Serta pelestarian air dengan menanam tanaman lindung Holtikultura dan Trembesi (Penyerap CO2) dan yang lebih penting lagi menjaga kebersihan selokan.

Setelah beberapa saat kemudian anak-anak dipandu oleh Ibu wiwik dan ibu-ibu PKK lainnya keluar ruangan dengan sebelumnya rombongan dibagi mengikuti beberapa ibu diantaranya yang sudah dikenalkan ada, Ibu Sa’adah, Ibu Nur, Bu Elly, dan Ibu Dewi.Dalam kegiatan diluar ini ibu-ibu membimbing dan mengenalkan anak-anak beragam jenis bunga dan tanaman obat, serta ditunjukkan model pemilahan sampah berdasarkan bak-bak yang sudah disediakan. Sambil mencatat manfaat dan tujuan dari hal-hal yang dijelaskan oleh ibu-ibu PKK tersebut, anak-anak juga mengobservasi jenis-jenis tanaman dan manfaatnya, ini dilakukan oleh Angga yang mengamati tanaman Melati dengan nama latinnya Jasmimum Sumbae yang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit disentri dan penawar racun lebah. Anak-anak tampak antusias mengikuti program ini karena mereka bisa bertanya langsung pada ahlinya.

Beberapa hal yang dijelaskan oleh ibu-ibu PKK dan dicatat oleh anak-anak adalah tentang Program pemilahan sampah yang dibagi menjadi sampah kering dan sampah basah. Artinya sampah kering dibagi menjadi 2 yaitu sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak bisa. Sedangkan sampah basah langsung diolah menjadi pupuk kompos dan pupuk cair. Lebih lanjut ibu-ibu PKK menjelaskan bahwa sampah kering dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan tangan dan juga mendatangkan profit bagi warga. Sedangkan pengolahan sampah basah yang berasal dari sisa makanan dan produk tumbuhan agar bisa jadi pupuk, caranya dimasukkan dulu dalam Komposter selama 6 bulan maka jadilah pupuk kompos. Untuk pupuk cair dari produk tumbuhan saja, bisa menghasilkan cairan yang di- gunakan untuk menyemprot tanaman.

Setelah beraktifitas keliling kampung, anak-anak dikumpulkan kembali di aula untuk menyaksikan demo pemanfaatan barang-barang bekas seperti sisa gelas dan botol air mineral yang diolah menjadi beragam hiasan rumah seperti lampu dan baling-baling. Anak-anak memperhatikan dengan teliti proses pembuat dan penjelasan dari bu Wiwik dan bu Sa’adah. Setelah itu anak-anak berpamitan untuk pulang. (A. Dina)

Jumat, 18 Desember 2009

AKSI MUHARRAM 1431 H DAN HARI IBU

Tembok Dukuh - Menyemarakkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H, Sekolah Kreatif SD. Muhammadiyah 20 Tembok Dukuh, Jum’at (18 Desember 2009) menggelar berbagai kegiatan. Rangkaian acara tahun baru tersebut digabungkan dengan menyambut Hari Ibu tanggal 22 Desember nanti. Tampak puluhan meja berjajar dengan peralatan memasak di atasnya terlihat di halaman sekolah. Puluhan bapak dan anak-anak tampak sibuk dengan peralatan memasak tersebut. Mereka bahu membahu memasak hidangan lezat untuk bunda.
Menurut ustadah Marlin, ada 3 acara yang digelar hari ini, diantaranya adalah Lomba memasak aneka mie untuk ayah dan anak, yang kedua lelang karya (gambar) siswa dan pemberian Award kepada dua orang ibu perkasa. Ditambahkan oleh ketua umum panitia kegiatan peringatan Muharram ini, tema untuk lomba masak kali ini adalah, Special taste from dad and me for mom Untuk lomba gambar anak bertema : Mom, me and my desire to mom, sedangkan untuk Award rencananya diberikan kepada para ibu yang memiliki profesi sebagai penambal ban dan pengayuh becak.

Ditambahkan oleh sekretaris panitia; lomba masak ini diikuti oleh 15 grup dari perwakilan masing-masing kelas 1-6, kegiatan pertama adalah ujuk kebolehan tim ayah dan anak yang terdiri 5 ayah dan 5 anak dalam satu grup. Mereka diharuskan memasak aneka masakan mie yang nantinya hasil masakan akan dipersembahkan buat ibunda tercinta. Kegiatan kedua, tambah ustadah Nita, mengharuskan para siswa membuat hasil karya gambar yang telah dibuat dua minggu sebelumnya pada jam pelajaran art. Siswa diarahkan untuk membuat gambar ibu, anak, dan tulisan untuk ibu yang berisi pendapat, harapan dan ucapan terimakasih kepada ibunya. Setelah itu proses penghiasan dan pewarnaan. Karena nantinya hasil karya itu akan dilelang (jual) dengan harga minimal Rp 5 ribu yang akan dibeli oleh ibu para siswa sendiri dan seluruh hasil lelang akan disumbangkan pada dua orang ibu perkasa yaitu Ibu Salimah, seorang tukang tambal ban dan Ibu Khoirul Yatimah seorang tukang becak.

Mereka dianggap layak menerimanya karena mereka berperan sebagai tulang punggung keluarga. Salimah harus menghidupi keluarga setelah suaminya meninggal, sedangkan Yatimah harus melakoni pekerjaan yang seharusnya diperuntukkan bagi laki-laki itu untuk menuntaskan pendidikan anaknya, setelah suaminya mengalami penyakit dalam (komplikasi) cukup lama dan belum sembuh. Dalam acara ini anak-anak diharapkan bisa lebih peduli dan berempati kepada orang lain serta mengenalkan Tahun Baru Islam (Hijriyah) kepada para siswa, karena selama ini siswa lebih mengenal tahun baru Masehi dan untuk orang tua agar mereka bisa lebih dekat dan peduli dengan hasil karya anak, tambah Nita.
Acara yang dipandu oleh dua MC Kreatif, Ustadah Restu dan Ustad Supri membuka dan menghantarkan acara dengan semarak, diawali dengan sajian musik keyboard iringan Ustad I’ir yang membawakan lagu-lagu yang bertema ibu seperti Bunda, Sayang Mama dan Kasih Ibu, dinyanyikan oleh siswa-siswi kelas 1 dan 2. Setelah beberapa lagu didendangkan, acara langsung dibuka dengan sambutan oleh Ustad. Ain, mewakili kepala sekolah, yang saat itu sedang study banding di Bali.
Dan lombapun dimulai dengan ditandai oleh bunyi panjang dering bel sekolah. Langsung saja para peserta bergegas dengan trampil menyalakan kompor, memasak mi dan memotong sayur. Sedangkan ibu-ibu hanya menonton suaminya memasak, ada yang melihat pameran dan yang hanya baca koran. Dewan juri yang terdiri dari 4 ustadah, yaitu Shovie, Marlin, Nita dan Linda turut serta turun ke lapangan melihat jalannya lomba sambil menilai peserta berdasarkan kriteria penilaian yang ditentukan dari kerjamasama ayah dan anak, kreasi menyajikan makanan dan yang terakhir, rasa makanan.

Tak kalah dengan dewan juri, pembawa acara turut berkeliling mendatangi setiap meja peserta dan melakukan wawancara dengan mereka. Ustad Supri dan ustadah Restu tidak henti-hentinya memuji ketrampilan bapak-bapak dalam memasak, menyemangati dengan membuat yel-yel, dan tak lupa mencicipi makanan di setiap meja yang didatangi. Dan yang mengharukan saat ustadah restu meminta salah satu murid bernama Noval kelas 2 guitar untuk membaca tulisan yang ada digambar setelah dibeli oleh ibunya, dengan suara khas anak-anak, tersendat-sendat terdengar yang intinya :“Ibu, maafkan aku ya, gara-gara nganterin aku ibu jadi terlambat dan dimarahi bosnya. Ibu kerjanya jauh, di Suramadu. Ibu sudah kerjanya jauh pulangnya malam dan kerjanya hanya mencatat jajan”. (tulisan bukan seperti ini, tapi khas tulisan anak-anak, Red). Sontak ustadah Restu yang mewawancari berkaca-kaca dan meneteskan air mata melihat kehebatan seorang anak yang mampu mengungkapkan jujur isi hatinya.
Karena temanya adalah Special taste for mom, para bapak ini menunjukkan kreativitasnya dalam memberikan nama masakan sarat dengan nuansa cinta. Seperti kelompok 6, misalnya. Mereka menghidangkan Mi Jantung Hati dan minuman Es Soda Sayang. Masakan yang mereka hidangkan berupa mi yang dicetak berbentuk hati dengan taburan lauk pauk. “Minya di-boil (rebus) terus ditambah lauk. Minumannya special dari Vietnam. "Saya nyontek resep waktu tugas disana, ha.. ha.. Sederhana sih, Cuma soda dicampur air jeruk", kata Wahyudi, 40 salah seorang anggota kelompok 6. Sedangkan yang lain diberi nama Mie Goreng Fantasy dan Minuman Secang, yang disajikan indah dan ditata artistik, dari kelompok 7.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.45, acara dilanjutkan dengan dialog ala Kick Andy, dipandu oleh Supri dan Restu. Tapi sebelum dialog dimulai, Supri mempersilakan para hadirin yang diantaranya Ibu-ibu wali murid, untuk duduk diatas karpet yang telah disediakan dan menyaksikan film yang berdurasi sekitar 7 menit melalui layar lebar tentang keseharian bu Yatimah mengayuh becak mengantar penumpang dan kecekatan bu Salimah membongkar dan menambal ban sepeda motor, serta ada dialog singkat mengenai suka duka dan kisah hidup mereka. Semua yang hadir merasa iba dan bangga, melihat ketangguhan dari kedua ibu perkasa ini, yang berjuang demi kesejahteraan anak-anaknya.

Ustadah Restu mengawali wawancara dengan bu Khoirul Yatimah, yang menanyakan berbagai hal tentang perasaan malu, mengapa memilih profesi yang biasanya dilakukan kaum adam, suka dukanya dll. Semua itu dijawab dengan lugas dan natural tampak bu yatimah selalu mensyukuri atas semua rejeki yang diterimanya saat itu, apa dari hasil cuci, mbecak atau ngrombeng (serabutan). Dia bercerita pernah mau dirampok becaknya tapi tidak jadi ketika sang perampok sadar yang menarik becak seorang wanita, lebih lanjut diceritakan bahwa kedua anaknya yang sudah kelas 2 SMA dan kelas 3 SD (saat itu salah satunya diajak) tidak malu dengan profesi ibunya, dan menyadari ayahnya yang sekarang hanya bisa jaga warung rokok dan makanan ringan. Kemudian wawancara dilanjutkan dengan bahasa khas jawa suroboyoan, antara ustad Supri dan bu Salimah, yang asli orang Bangkalan Madura, tidak bisa berbahasa Indonesia. Mau tidak mau dialog berjalan dengan bahasa jawa ngoko sesekali di terjemahkan. Dalam jawabannya, bu Salimah menceritakan sudah 50 tahun merantau di Surabaya, dan 30 tahun tinggal di rumah gubuk pinggir jalan demak dekat kuburan mbah ratu, Dan menurut keterangan beliau saat wawancara. Bagaimana bisa berprofesi sebagai tukang tambal ban, beliau menjawab, itu semua diawali saat buka usaha warung, dan berdampingan dengan seorang penambal ban. Beliau tiap hari mengamati dan mempelajari. Kian lama beliau mulai berfikir untuk berani membuka tambal ban sendiri, begitu tekadnya. Seiring waktu dia bisa menabung dan membeli sendiri mesin pompa angin serta membesarkan tiga anaknya hingga menikahkannya dari hasil menambal ban.. Beliau memang menyayangkan anaknya yang sudah rumah tangga, jika dapat duit hanya untuk keluarganya sendiri, sedangkan beliau jika dapat duit dibagi untuk semua keluarga. Para hadirin yang mendengarkan memuji semangat mereka. Acara berlangsung kurang lebih 1 jam. Dan sekitar pukul 10.45 WIB acara dialog diakhiri, karena mendekati waktu untuk sholat jum’at.
Acara ditutup dengan pengumuman 3 besar pemenang lomba masak, oleh dewan juri dan memutuskan Group dengan nomor meja: 5,6 dan 9 sebagai pemenang, mereka diminta untuk maju semua sambil membawa makanannya. Juri meminta sang ayah menyerahkan makanan dan menyuapi bunda dengan mengungkapkan dulu perasaan sebagai bentuk cinta kasihnya. Setelah disuapi sang bunda pun harus berkomentar tentang masakan tersebut. Setelah itu diumumkan pemenangnya yaitu, juara 3 dari wakil kelas 2 meja no 6, juara 2 wakil dari kelas 4 meja no 5 dan Juara 1 wakil dari kelas 6 meja no 9. Para pemenang juara 1 dan 2 diberikan penghargaan untuk memberikan Uang Hasi Lelang yang saat itu memperoleh Rp. 3.290.000,- dan dipersembahkan semua kepada ibu perkasa masing-masing mendapat sekitar Rp.1.545.000 ayahanda dean memberikan ucapan selamat kepada ibu salimah dan berpesan agar tetap semangat menjalani hidup. Sedangkan ayahanda Virghina langsung memberikan uang sumbangan ke ibu Khoirul Yatimah. Dan mulai juara 1, 2 dan 3 mendapat hadiah dari panita yang dibagikan oleh ustadah Shovie, ustad Supri dan ustadah Linda.
Memang kemeriahan acara ini tidak dibayangkan oleh semua guru dan khususnya panitia, hingga para wartawan cetak, televisi, Radio dan internet lengkap hadir, seperti Jawa Pos (Cetak), El Shinta – on air (Udara), Detik.Com (internet) dan terakhir JTV (Televisi). Dan tak kalah semua wali murid yang mau dan sukarela mengikuti acara ini, pihak sekolah menghargai sekali bentuk kerjasama dan penghargaan waktu yang diberikan khususnya para bapak-bapak yang peduli dan cinta terhadap keluarganya terkhusus istri dan anak-anaknya. Acara yang digelar sederhana, hari itu tampak mewah bak pagelaran pameran di sebuah galeri (menyulap kelas jadi ruang pameran), dan terlebih lagi penghargaan yang tinggi bagi orang tua yang peduli dengan karya anaknya membeli dengan harga hingga Rp. 100.000 per-karya dan membeli 2 karya putra-putri mereka dengan tunai Rp. 200.000,-.
Sungguh pembelajaran yang luar biasa ditunjukkan langsung oleh para orang tua yang memahami seni dan sebuah karya terkhusus buatan anaknya sendiri. Panitia membayangkan jika putra-putri mereka kelak akan bangga pada mereka sebagai figur yang patut diteladani dan dihormati karena mereka memiliki kepedulian dan mau menghargai anak yang mungkin hanya masih duduk di sekolah dasar. (Achung)